Gambar Iklan
Scroll untuk melanjutkan membaca

BMKG Luruskan Hoaks Air Hujan: Bukan Bahan OMC yang Bikin Air Terkontaminasi

 

“Ist”ITT

INFOTEBOTERKINI.COMBeredar di media sosial sebuah poster yang mengimbau masyarakat agar tidak menampung hujan udara untuk keperluan sehari-hari dengan alasan adanya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau penyemaian awan yang termasuk menggunakan bahan tertentu dan mencemari hujan udara.

Informasi tersebut dinyatakan tidak benar oleh BMKG . Dalam klarifikasi materi yang diterbitkan Stasiun Meteorologi Supadio, BMKG menegaskan bahwa tidak mengeluarkan informasi seperti yang tercantum dalam poster yang tersebar tersebut.

BMKG menjelaskan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) merupakan upaya untuk meningkatkan potensi hujan dengan melakukan penyemaian awan menggunakan bahan seperti Natrium Klorida (NaCl) atau garam dapur .

Lalu, apakah masyarakat perlu meminta air hujan akibat bahan yang digunakan dalam OMC?

BMKG menyebut, bahan yang digunakan dalam OMC bukanlah bahan kimia berbahaya sebagaimana narasi yang beredar. NaCl yang digunakan merupakan garam, dengan perbedaan terutama pada tingkat kemurnian dan ukuran partikelnya agar lebih efektif sebagai inti kondensasi di dalam awan.

Menurut penjelasan BMKG, penggunaan NaCl dalam OMC telah melalui berbagai kajian dan disebut masih berada dalam ambang batas aman serta tidak menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan .

Bukan Karena OMC, Air Hujan Saat Ini Tetap Perlu Diwaspadai

Meski demikian, BMKG memberikan penjelasan penting justru berkaitan dengan kondisi lingkungan saat ini, khususnya wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) .

Pembakaran hutan dan lahan menghasilkan asap yang mengandung berbagai partikel halus seperti PM2.5 dan PM10 , serta senyawa lain yang dapat terbawa di udara hingga ke awan.

Ketika hujan turun, terutama pada tetesan air hujan pertama , khususnya yang berada di atmosfer dapat ikut terbawa turun. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kualitas air hujan pada awal hujan kurang baik untuk langsung dikonsumsi .

Oleh karena itu, kewaspadaan masyarakat terhadap hujan udara bukan disebabkan oleh bahan OMC yang dianggap berbahaya, melainkan lebih berkaitan dengan kondisi kualitas udara dan banyaknya partikulat akibat asap serta karhutla .

Jika Ingin Menampung Air Hujan, pilih Diolah

BMKG juga menjelaskan bahwa air hujan yang hendak dimanfaatkan sebaiknya tidak langsung dikonsumsi. Udara perlu melalui proses pengolahan terlebih dahulu, antara lain dengan diendapkan agar kotoran dan partikulat dapat mengendap, kemudian disaring untuk memperoleh udara yang lebih bersih dan aman digunakan.

Dengan demikian, masyarakat diimbau tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial tanpa memastikan sumbernya.

Intinya, BMKG membantah narasi bahwa hujan air menjadi berbahaya karena bahan kimia dari OMC. Namun, dalam kondisi udara yang dipengaruhi asap karhutla, masyarakat tetap perlu berhati-hati terhadap hujan air, khususnya hujan air yang turun pada awal periode hujan.

Jangan sampai informasi yang seharusnya menjadi edukasi justru berubah menjadi hoaks yang menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.


Baca Juga
Berita Terbaru
  • BMKG Luruskan Hoaks Air Hujan: Bukan Bahan OMC yang Bikin Air Terkontaminasi
  • BMKG Luruskan Hoaks Air Hujan: Bukan Bahan OMC yang Bikin Air Terkontaminasi
  • BMKG Luruskan Hoaks Air Hujan: Bukan Bahan OMC yang Bikin Air Terkontaminasi
  • BMKG Luruskan Hoaks Air Hujan: Bukan Bahan OMC yang Bikin Air Terkontaminasi
  • BMKG Luruskan Hoaks Air Hujan: Bukan Bahan OMC yang Bikin Air Terkontaminasi
  • BMKG Luruskan Hoaks Air Hujan: Bukan Bahan OMC yang Bikin Air Terkontaminasi
Ad
Ad