![]() |
| Foto : Zarnuzi Penulis “ist”ITT |
INFOTEBOTERKINI.COM,- Renungan tentang air, kesehatan, mata pencaharian, dan
masa depan anak cucu
Oleh: Zarnuzi, SKM., M.Epid (Epidemiolog/ Pemerhati Kesehatan Masyarakat)
Pandangan pribadi
Kadang-kadang, kita perlu meluangkan waktu sebentar dari rutinitas harian.
Saya berdiri di pinggir sungai batanghari sambil menatap sungai yang mengalir, dan bertanya pada diri sendiri.
Apakah Sungai Batanghari masih bisa memberi kehidupan bagi anak cucu kita seperti
sekarang?
Mungkin pertanyaan ini terdengar sederhana. Namun, di tengah kondisi Sungai Batanghari
yang semakin “memprihatinkan”, pertanyaan ini semakin penting.
Saat musim kemarau tiba dan volume udara mulai berkurang, kita semakin sadar betapa berharganya
udara. Air yang selama ini kita anggap selalu ada ternyata terbatas. Ketika sungai mulai surut,
kekhawatiran kita bukan hanya soal perubahan pemandangan. Kita juga cemas soal kebutuhan
dasar masyarakat yang bergantung pada sungai.
Sungai Batanghari bukan hanya aliran air.
Sungai ini bagian penting dari kehidupan.
Dari air sungai, masyarakat memenuhi banyak kebutuhan sehari-hari. Banyak orang juga
mencari penghasilan dari sungai. Jadi, membahas kondisi Sungai Batanghari berarti membahas
Kehidupan manusia.
Saat ini, kita melihat banyak tekanan yang dihadapi sungai. Sedimentasi menjadi salah satu
masalah yang harus kita perhatikan. Aktivitas di sekitar sungai, termasuk pertambangan yang
tidak sesuai aturan, menambah beban lingkungan sungai.
Pada saat seperti ini, kita perlu berhenti sebentar.
Bukan untuk mencari siapa yang salah.
Bukan juga untuk menyalahkan masyarakat yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kita semua tahu mencari nafkah itu tidak mudah. Ada keluarga yang harus diberi makan, anak-
anak yang harus disekolahkan, dan kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi.
Oleh karena itu, ajakan untuk menjaga Sungai Batanghari seharusnya tidak dianggap sebagai
permintaan untuk menghilangkan sumber penghidupan siapa pun.
Sebaliknya, mari kita coba melihat masalah ini dari sudut pandang yang lebih luas.
Bagaimana jika kita mencari cara untuk memenuhi kebutuhan kita sekarang, tetapi tetap
memberi sungai kesempatan untuk bertahan demi kehidupan di masa depan?
Mungkin penjelasannya tidak mudah.
Namun, mencari cara mencari nafkah yang lebih ramah lingkungan seharusnya menjadi bagian
dari usaha bersama kita.
Jika bisa, mungkin sudah saatnya kita mulai berpikir untuk mengurangi atau bahkan berhenti
sementara dari aktivitas yang bisa memperparah kerusakan sungai. Sambil kita mencari pilihan
usaha lain yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga.
Ada hal yang jauh lebih penting yang sedang kita pertaruhkan, yaitu air
Kita bisa mencari pekerjaan lain. Kita bisa mencari usaha lain. Namun, jika sumber air kita
rusak parah, perbaikan tidak selalu mudah dan tidak selalu cepat.
Kerusakan sungai yang terjadi hari ini mungkin tidak langsung terasa dalam beberapa hari,
tapi dampaknya bisa dirasakan perlahan oleh generasi mendatang.
Anak-anak kita mungkin belum paham apa itu sedimentasi.
Mereka mungkin belum tahu bagaimana kualitas udara bisa dipengaruhi oleh aktivitas manusia.
Namun, suatu saat mereka akan membutuhkan air bersih.
Mereka akan membutuhkan sungai. Mereka akan membutuhkan lingkungan yang sehat. Dan
mungkin saat itu mereka akan bertanya,
“Apa yang sudah kita lakukan ketika Sungai Batanghari mulai rusak?”
Pertanyaan itu tentu menjadi tanggung jawab moral kita bersama.
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, menjaga sungai juga berarti menjaga kualitas
lingkungan tempat kita hidup. Udara yang tercemar atau terkontaminasi bahan berbahaya bisa
menjadi masalah kesehatan jika manusia terpapar dalam kondisi tertentu.
Salah satu hal yang perlu kita perhatikan adalah penggunaan bahan seperti merkuri dalam
kegiatan pertambangan. Merkuri adalah bahan berbahaya yang dapat menimbulkan dampak
kesehatan jika terpapar dalam jumlah dan kondisi tertentu.
Namun, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa setiap masalah kesehatan masyarakat
di sekitar sungai pasti disebabkan oleh merkuri tanpa melakukan pemeriksaan dan kajian
ilmiah yang mendalam.
Yang lebih penting adalah prinsip kehati-hatian.
Jangan tunggu sampai sakit baru mulai menjaga lingkungan.
Bukankah lebih baik mencegah daripada menghadapi akibatnya? Kesehatan masyarakat tidak
hanya dibangun di rumah sakit.
Kesehatan dimulai dari lingkungan yang bersih, udara yang aman, makanan yang sehat, udara
yang segar, dan perilaku masyarakat yang menjaga keseimbangan alam.
Sebagai seseorang yang bekerja di bidang pelayanan kesehatan, saya melihat masalah sungai
bukan hanya isu lingkungan. Bagi saya, ini juga masalah kesehatan masyarakat.
Rumah sakit bisa mengobati orang yang sakit.
Namun, lingkungan yang sehat membantu mencegah masyarakat jatuh sakit. Oleh karena itu,
menjaga Sungai Batanghari sebenarnya adalah bagian dari usaha menjaga kesehatan
masyarakat dalam jangka panjang.
Saya percaya, masyarakat yang mengandalkan sungai juga punya rasa cinta terhadapnya.
Tidak ada orang tua yang ingin anaknya tumbuh di lingkungan yang rusak. Tidak ada keluarga
yang ingin anak cucunya kekurangan udara.
Dan tidak ada komunitas yang ingin sumber kehidupannya hilang perlahan. Maka, mungkin
yang kita perlukan sekarang bukan saling menyalahkan. Kita butuh kesadaran bersama.
Untuk saudara-saudara kita yang selama ini mencari nafkah dari kegiatan di sekitar sungai,
semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat kecil di hati. Mungkin sudah saatnya kita berhenti
sejenak.
Bukan berhenti mencari nafkah, tapi berhenti sejenak dari aktivitas yang bisa semakin lama
Mengonsumsi Sungai Batanghari.
Sambil perlahan mencari cara hidup yang lebih aman untuk keluarga dan lebih ramah terhadap
lingkungan.
Kebutuhan ekonomi hari ini memang penting. Namun, kebutuhan udara untuk hidup jauh lebih banyak
•.
Hari ini kita mungkin butuh penghasilan untuk memberi makan keluarga. Namun, besok kita
butuh air untuk keluarga yang sama.
Mari kita renungkan bersama. Kita perlu mencari cara agar keluarga kita bisa terus hidup,
sementara Sungai Batanghari juga tetap terjaga.
Tidak ada gunanya kita mewariskan kekayaan kepada anak cucu jika mereka terima
hanyalah sungai yang tercemar dan sumber udara yang semakin langka.
Warisan kita sebaiknya bukan hanya rumah, tanah, atau harta benda.
Kita juga perlu mewariskan lingkungan yang mendukung kehidupan mereka.
Sungai Batanghari adalah titipan yang sudah menghidupi banyak generasi sebelum kita.
Sekarang, saatnya kita menjaga agar sungai ini bisa terus menghidupi generasi setelah kita.
Mungkin kita tidak bisa memulihkan sungai ini dengan cepat.
Kerusakan yang ada mungkin memerlukan waktu lama untuk diperbaiki. Tapi, setiap usaha untuk
mengurangi kerusakan sangat berarti.
Setiap orang yang memilih menjaga sungai ini memiliki peran penting.
Setiap orang yang mau berhenti sejenak demi masa depan anak cucu kita sebenarnya sudah
melakukan sesuatu yang besar.
Jangan tunggu sampai Batanghari benar-benar kehabisan air baru kita sadar betapa berharganya
sungai ini.
Jangan tunggu anak cucu kita bertanya mengapa sungai yang dulu megah kini hanya tinggal
kenangan.
Ayo kita jaga Batanghari sebelum semuanya terlambat.
Menjaga Batanghari bukan hanya menjaga sungai.
Kita juga menjaga air.
Menjaga udara berarti menjaga kesehatan.
Menjaga kesehatan berarti menjaga kehidupan.
Menjaga berarti menjaga masa depan anak cucu kita.
Pada akhirnya, mungkin Sungai Batanghari tidak meminta banyak dari kami.
Ia hanya meminta kesempatan untuk terus mengalir.
Mari kita beri kesempatan itu. ***
