![]() |
| Foto : Penulis Zarnuzi “ist”ITT |
INFOTEBOTERKINI.COM,- Oleh: Zarnuzi, SKM., M.Epid (Epidemiolog/ Pemerhati Pelayanan Kesehatan)
Saat membahas rumah sakit, kita tidak hanya berbicara soal gedung, dokter, perawat,
tempat tidur, atau jumlah kunjungan. Ada orang-orang yang datang dengan harapan.
Ada pasien yang ingin sembuh. Ada keluarga yang ingin kepastian. Ada kepercayaan yang
diberikan pada sebuah fasilitas layanan kesehatan.
Oleh karena itu, saat ini muncul anggapan bahwa pelayanan rumah sakit masih memprihatinkan
dan masyarakat enggan berobat ke rumah sakit, menurut saya hal ini harus menjadi
Perhatian bersama.
Bukan untuk mencari siapa yang benar atau salah.
Bukan juga untuk memperdebatkan pandangan masyarakat dengan pihak rumah sakit.
Sebaliknya, setiap penilaian dari masyarakat bisa menjadi bahan untuk melihat kembali
apakah pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan harapan pasien.
Namun, dalam menilai sebuah layanan kesehatan, ada hal lain yang juga penting, yaitu data.
Data tidak boleh dipakai untuk membantah pendapat siapa pun. Tapi datanya juga tidak
seharusnya diabaikan saat kita mencoba memahami kondisi pelayanan rumah sakit
secara lebih objektif.
Beberapa indikator menunjukkan perkembangan yang menarik untuk diperhatikan.
Tingkat hunian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) naik. Pemakaian tempat
tidur bertambah. Kunjungan pasien juga meningkat. Di sisi lain, jumlah pasien yang
pulang atas permintaan sendiri cenderung turun.
Apa arti semua itu?
Menurut saya, setidaknya ada satu hal yang bisa kita lihat. Pelayanan rumah sakit masih
dibutuhkan dan dipakai oleh masyarakat.
Meningkatnya kunjungan dan pemanfaatan tempat tidur tentu tidak langsung
membuktikan bahwa semua pelayanan sudah sempurna. Begitu juga, turunnya angka
pasien pulang atas permintaan sendiri bukan berarti tidak ada lagi masalah yang perlu dibenahi.
Namun, pencapaian itu juga menunjukkan ada bagian dari perjalanan pelayanan yang
bergerak ke arah yang lebih baik.
Di dalam kita harus berhati-hati dalam membaca angka.
BOR yang naik tidak bisa membuat rumah sakit cepat merasa cukup. Jumlah
kunjungan yang bertambah juga tidak dapat membuat kita memikirkan semua masalah
sudah selesai.
Justru sebaliknya. Semakin banyak masyarakat yang datang, semakin besar
tanggung jawab rumah sakit untuk memberi pelayanan yang baik.
Pasien yang datang tidak hanya membutuhkan obat dan tindakan medis. Mereka butuh
pelayanan, informasi yang jelas, kepastian pelayanan, lingkungan yang aman,
komunikasi yang baik, serta perlakuan yang menghargai mereka sebagai manusia.
Oleh karena itu, menurut saya, persepsi masyarakat dan pelayanan data tidak perlu
dipertentangkan.
Keduanya bisa berjalan bersama.
Persepsi masyarakat memberi tahu kita apa yang mereka rasakan. Memberi data
gambaran tentang apa yang terjadi. Ketika keduanya dipadukan, rumah sakit punya
bahan evaluasi yang lebih lengkap.
Jika masih ada pasien yang merasa pelayanan kurang cepat, kurang ramah, kurang
jelas, atau belum sesuai harapan, maka masukan itu harus didengar.
Jika data menunjukkan adanya peningkatan kunjungan, BOR dan pemanfaatan tempat tidur,
maka cauan itu juga pantas diapresiasi.
Yang baik dipertahankan. Yang kurang diperbaiki. Yang sudah naik ditingkatkan
lagi.
Menurut saya, inilah cara yang lebih sehat dalam membangun pelayanan publik.
Rumah sakit tidak perlu repot membuktikan bahwa dirinya sudah baik. Yang lebih penting
adalah terus menunjukkan perbaikan melalui pelayanan yang langsung dirasakan pasien.
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak akan menilai rumah sakit hanya dari laporan atau angka.
Masyarakat akan mengingat bagaimana diperlakukan ketika mereka datang ke dalam
keadaan sakit.
Apakah mereka disambut dengan baik?
Apakah mereka mendapat informasi yang jelas?
Apakah pelayanan diberikan dengan cepat dan tepat?
Apakah petugas menunjukkan kepedulian?
Apakah pasien merasa aman?
Dan yang juga penting, apakah setelah pulang mereka masih percaya untuk kembali
saat ini butuh pelayanan kesehatan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana inilah yang menurut saya harus selalu jadi perhatian.
Kita memang patut memberikan apresiasi kepada semua tenaga kesehatan dan unsur
pelayanan yang setiap hari bekerja menghadapi berbagai karakter pasien, kondisi
darurat, beban kerja, dan tuntutan pelayanan yang terus berubah.
Tapi penghargaan tidak boleh hanya jadi rasa bangga.
Apresiasi harus menjadi energi untuk berbuat lebih baik.
Begitu juga dengan kritik dan masukan. Kritik tidak harus dianggap sebagai ancaman.
Masukan bisa jadi pengingat bahwa masih ada hal yang perlu diperbaiki.
Rumah sakit yang terus belajar bukan berarti rumah sakit itu gagal.
Sebaliknya, keinginan untuk mendengar, menilai, dan memperbaiki diri adalah bagian
dari usaha membangun pelayanan yang semakin baik.
Oleh karena itu, saat kita melihat BOR naik, kunjungan bertambah, pemakaian tempat tidur
naik, dan angka pasien pulang atas permintaan sendiri turun, saya kira kita boleh bilang
ada tanda-tanda positif yang layak diapresiasi.
Namun, jangan berhenti di situ.
Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan aktivitas pelayanan itu berjalan
bersama dengan peningkatan mutu, keselamatan pasien, kepuasan masyarakat,
kecepatan pelayanan, dan pengalaman pasien.
Dengan kata lain, tidak hanya semakin banyak pasien yang datang. Semakin
banyak juga pasien yang pulang dengan membawa kepercayaan.
Kepercayaan inilah yang harus terus kita bangun.
Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya bertanya, “Apakah pelayanan rumah sakit
sudah baik-baik saja?” Kita juga perlu bertanya,
“Apa yang bisa kita lakukan agar pelayanan rumah sakit hari ini lebih baik daripada
kemarin, dan besok lebih baik dari hari ini?”
Pertanyaan ini bukan hanya untuk satu pihak saja. Ini adalah semangat bersama.
Masyarakat dapat menyampaikan harapan. Rumah sakit wajib mendengar dan
memperbaiki. Tenaga kesehatan terus belajar dan peduli. Semua pihak bisa ikut
membangun pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Pada akhirnya, rumah sakit bukan sekadar tempat orang berobat.
Rumah sakit adalah tempat masyarakat menitipkan harapan saat mereka sangat membutuhkan pertolongan.
Setiap kunjungan bukan hanya angka.
Di balik setiap angka ada pasien. Di balik setiap pasien ada keluarga. Di balik setiap
keluarga ada kepercayaan yang harus dijaga.
Oleh karena itu, pencapaian yang sudah baik patut kita syukuri dan hargai. Kekurangan yang
masih ada harus kita perbaiki.
Bukan untuk menang dalam kejadian itu.
Bukan untuk membantah siapa pun. Tapi untuk satu tujuan yang jauh lebih penting, yaitu
menghadirkan pelayanan rumah sakit yang semakin baik, aman, ramah, manusiawi,
dan dipercaya masyarakat.***
