![]() |
| Foto : “ist”ITT |
INFOTEBOTERKINI.COM,- Kabut asap kembali ke Kabupaten Tebo, Jambi. Kondisi udara yang semakin memicu kemarahan aktivisme lingkungan. Pemerintah Provinsi Jambi pun mendapat sorotan tajam karena dinilai belum mampu memberikan solusi konkrit terhadap persoalan kabut asap yang terus menghantui masyarakat.
Sorotan keras tersebut datang dari Hari Irawan , Ketua DPP LP2LH Kabupaten Tebo. Melalui sebuah video berdurasi sekitar 1 menit 49 detik yang beredar, pria yang akrab disapa Wawan itu secara terbuka memberikan “kartu merah” kepada Gubernur Jambi Al Haris .
Wawan menilai Gubernur Jambi tidak serius menangani persoalan kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Jambi, khususnya Kabupaten Tebo.
Menurutnya, kondisi di lapangan justru semakin memprihatinkan. Pada Kamis, 8 Oktober 2026 , asap terlihat memenuhi sejumlah wilayah Kabupaten Tebo. Ironisnya, di tengah kepungan asap tersebut, informasi yang dihimpun menyebutkan hotspot di wilayah Kabupaten Tebo saat ini nihil .
Kondisi itu, kata Wawan, harus menjadi pertanyaan serius. Jika titik panas tidak terdeteksi, lalu dari mana sumber asap yang begitu pekat hingga mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat?
“Gubernur Jambi harus serius. Jangan sampai masyarakat terus-menerus menjadi korban kabut asap,” tegas Wawan dalam pernyataannya.
Ia juga menyoroti dampak kesehatan masyarakat. Berdasarkan data yang disampaikan Wawan, sekitar 23 ribu jiwa di 12 kecamatan di Kabupaten Tebo disebut telah terpapar ISPA . Angka tersebut dinilainya menunjukkan adanya peningkatan kasus yang sangat signifikan.
Wawan bahkan meminta pemerintah tidak ragu mengambil langkah lebih tinggi apabila kemampuan daerah sudah tidak mampu mengendalikan kondisi tersebut.
Menurutnya, jika persoalan kabut asap sudah berada di luar kemampuan pemerintah daerah, maka pemerintah provinsi seharusnya berani meminta bantuan pemerintah pusat.
“Kalau memang tidak mampu, jangan sungkan dan jangan malu mengatakan kepada Presiden, naikkan saja tingkat status kebencanaannya. Jadikan siaga dan bila memang diperlukan naikkan statusnya agar bantuan segera masuk ke Jambi,” ujarnya.
Kritikan Wawan semakin tajam ketika merasakan aktivitas pemantauan kabut asap yang dilakukan pemerintah menggunakan helikopter.
Ia mengukur efektivitas pemantauan tersebut jika tidak dilakukan dengan langkah nyata untuk menghentikan sumber permasalahan.
“Bukan hanya bisa membuat vlog di atas helikopter menggabungkan kabut asap. Kalau hanya seperti itu, anak kecil juga bisa,” sindir Wawan.
Bagi aktivisme lingkungan tersebut, masyarakat tidak hanya membutuhkan dokumentasi dan pemantauan dari udara. Yang diperlukan hanyalah aksi nyata, penanganan sumber asap, perlindungan kesehatan masyarakat, serta langkah tegas untuk memastikan persoalan karhutla tidak terus terulang.
LP2LH SIAP GELAR AKSI, PATUNG SULTAN THAHA AKAN DIPASANG MASKER
Tak berhenti pada kritik, DPP LP2LH Kabupaten Tebo juga menyatakan akan melakukan aksi pada Senin, 12 Oktober 2026 .
Aksi tersebut direncanakan bertepatan dengan momentum HUT Kabupaten Tebo ke-27 . Salah satu bentuk aksi yang akan dilakukan adalah memasang masker pada patung Sultan Thaha Saifuddin sebagai simbol bahwa kondisi udara di Tebo sedang tidak baik-baik saja.
Selain itu, LP2LH juga berencana membagikan masker kepada masyarakat Kabupaten Tebo.
Aksi tersebut menjadi pesan simbolik bahwa di tengah perayaan hari jadi daerah, masyarakat justru masih harus dihadapkan pada persoalan kabut asap dan ancaman kesehatan.
Kartu merah yang diberikan aktivisme bukan sekedar simbol kemarahan. Itu adalah alarm keras agar pemerintah tidak hanya melihat persoalan kabut asap dari udara, tetapi turun langsung untuk memastikan masyarakat benar-benar mendapatkan udara yang aman untuk dihirup.
Kini publik menunggu: apakah pemerintah akan menjawab kritik tersebut dengan aksi nyata, atau persoalan kabut asap kembali menjadi rutinitas tahunan yang terus menghantui masyarakat Jambi?
(RR-ITT)
