![]() |
| Poster, foto : Ist |
INFOTEBOTERKINI.COM, - Sebuah poster bertajuk “Open Donasi untuk Perbaikan Jalan Padang Lamo” viral dan menyulut kemarahan publik. Bukan sekadar ajakan gotong royong, isi poster tersebut justru menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah: masyarakat diminta mengumpulkan koin untuk membantu ongkos bensin pejabat agar mau turun langsung melihat kondisi jalan yang rusak parah.
Dalam poster tersebut, terpampang jalan berlubang, becek, dan nyaris tak layak dilalui. Di atasnya, wajah-wajah pejabat disilang merah, simbol kekecewaan mendalam. Narasi yang disampaikan pun tidak main-main: rakyat seolah dipaksa patungan agar pemimpin mereka bersedia melihat penderitaan yang sudah lama terjadi.
“Mari kita kumpulkan koin untuk bantu ongkos bensin kepada Gubernur Jambi dan anggota DPRD Provinsi untuk meninjau langsung kondisi jalan Padang Lamo.”
Kalimat ini bukan sekadar ajakan, ini sindiran telak. Di tengah penderitaan masyarakat yang setiap hari berjibaku dengan jalan rusak, muncul pertanyaan besar: ke mana anggaran pembangunan selama ini? Mengapa akses vital yang menyangkut ekonomi, pendidikan, dan keselamatan warga justru dibiarkan hancur tanpa kepastian?
Kondisi Jalan Padang Lamo disebut sudah lama menjadi keluhan. Lubang menganga, genangan air, hingga risiko kecelakaan menjadi makanan sehari-hari warga. Anak sekolah harus berjalan kaki sambil menenteng sepatu, kendaraan sering rusak, dan aktivitas ekonomi tersendat.
Namun yang paling menyakitkan bagi masyarakat bukan hanya kerusakan jalan melainkan minimnya perhatian.
Aksi “open donasi” ini pun dibaca publik sebagai bentuk protes kreatif sekaligus keputusasaan. Ketika aspirasi tak kunjung didengar, rakyat memilih cara yang paling menyindir: mengumpulkan uang receh agar pejabat mau turun ke lapangan.
Gelombang kritik pun menguat. Banyak pihak menilai, jika benar pejabat perlu “didanai” untuk sekadar meninjau kondisi rakyat, maka ada yang sangat salah dalam sistem pelayanan publik.
Hingga kini, belum ada respons tegas dari pihak terkait mengenai sindiran keras tersebut. Namun satu hal jelas, poster ini telah menjadi simbol perlawanan sunyi masyarakat yang lelah menunggu. (Red-ITT)
