![]() |
| Aktivitas LSM Gema Tipikor, Sumi, foto : Ist |
INFOTEBOTERKINI.COM, - Kondisi Jalan Padang Lamo di Kabupaten Tebo kembali menuai sorotan tajam dari publik. Ruas jalan yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat itu kini kian memprihatinkan. Bukan sekadar rusak, jalan tersebut bahkan disebut hampir tak bisa dilalui kendaraan.
Ironisnya, dari 10 anggota DPRD Provinsi Jambi perwakilan Bungo–Tebo, sebanyak 7 orang merupakan putra daerah asal Kabupaten Tebo. Di antaranya terdapat nama-nama seperti Sukandar (mantan Bupati Tebo), Mazlan (mantan Ketua DPRD Tebo), Ansori (mantan aktivis), Eka Madjid Mua’az, KH. Rifai, Mustaharudin, dan Warno.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar dari masyarakat: di mana peran dan keberpihakan para wakil rakyat tersebut terhadap daerah asalnya?
Jalan Padang Lamo sejatinya bukan persoalan baru. Perbaikan ruas jalan ini bahkan sempat menjadi bagian dari janji politik dalam berbagai kontestasi. Namun hingga kini, realisasinya belum terlihat. Yang terjadi justru sebaliknya—kerusakan semakin parah dengan lubang besar di sepanjang jalan. Warga pun menyindir kondisi tersebut, “tinggal ditebar bibit ikan, sudah jadi kolam.”
Aktivis LSM Gema Tipikor, Sumi, menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap lambannya respons para wakil rakyat. Ia menilai aspirasi masyarakat seolah tidak lagi didengar, meskipun berbagai keluhan telah berulang kali disampaikan.
“Ini bukan lagi soal janji, tapi soal tanggung jawab. Jika mereka benar-benar mewakili rakyat, seharusnya berada di barisan terdepan memperjuangkan kondisi ini,” tegas Sumi.
Sumi juga mengingatkan agar alasan efisiensi anggaran tidak dijadikan dalih untuk mengabaikan persoalan mendesak tersebut. Menurutnya, Jalan Padang Lamo memiliki peran vital sebagai akses utama masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga kebutuhan sehari-hari.
Kekecewaan yang terus menumpuk di tengah masyarakat dikhawatirkan akan memicu gelombang aksi. Bahkan, sinyal pergerakan mulai terlihat. Warga bersama sejumlah elemen, termasuk LSM Gema Tipikor, menyatakan siap turun ke lapangan apabila tidak ada langkah konkret dari para pemangku kebijakan.
“Jangan tunggu masyarakat benar-benar marah. Ketika mereka bergerak, itu tanda kepercayaan sudah habis,” lanjutnya.
Kini, harapan masyarakat hanya satu: bukti nyata, bukan sekadar janji. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Jalan Padang Lamo akan menjadi simbol kegagalan wakil rakyat dalam memperjuangkan kepentingan daerahnya sendiri. (Red-ITT)
